A Heavy Coffee Drinker

Varian Delta Covid 19, Cara Isolasi Mandiri dan Cek Ketersediaan Rumah Sakit

Soooo here we go again!

It’s been more than a year sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan di Indonesia, tepatnya pada tanggal 2 Maret 2020. 

Dan ternyata setelah sempat mengalami penurunan kasus, kini malah terjadi lonjakan gila-gilaan ditambah dengan munculnya varian baru yaitu varian Delta. Huhu. 

Jadi rasanya tuh seperti back to square one alias kembali ke nol lagi ya Kakak. 

Wah, apakah ini pertanda harus siap-siap ngocok dalgona coffee lagi? 

*buru-buru beli nescafe classic*

Nah, maka rapatkan masker kita dan longgarkan jarak satu sama lain. 

Lalu, varian Delta dari Covid-19 ini sebenernya apa sih? Bedanya apa sama varian yang terdahulu?

Kalau menurut para ahli nujum medis, varian Delta ini merupakan hasil mutasi varian sebelumnya yang ditemukan pertama kali di India. Varian ini tidak lebih mematikan TAPI mampu menular dengan lebih cepat dan mudah. Itu yang bikin berbahaya.

Varian awal Covid-19 dulu membutuhkan waktu interaksi sekitar 15 menit baru bisa menular. Tapi varian yang sekarang cuma butuh 5-10 detik aja sudah bisa menular. Jadi misalnya kita sekedar papasan bukan yang berinteraksi lama, itu sudah berisiko tertular. Selain itu partikel virus ini bisa bertahan di udara sampai 16 jam. Duh betah banget ya. 

Ibaratnya dulu kita transfer data pakai infrared yang super lama sekarang sudah lebih canggih pakai bluetooth yang lebih was wes. Begitu pula si virus Covid-19 varian Delta ini sekarang lebih mudah bertransmisi. Namun  pola pencegahannya dasarnya masih sama.

Kuncinya pada pemakaian masker, menjaga jarak, memastikan ventilasi ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik. Untuk pemakaian masker anjurannya adalah di dobel, lapis pertama menggunakan masker medis dan lapis kedua bisa menggunakan masker kain. 

Engap sih pasti, tapi daripada engap gara-gara saturasi oksigen rendah. Amit-amit. 

Akibat ledakan gelombang kedua ini, lingkaran orang-orang yang kena Covid-19 semakin mengecil. Padahal sudah mulai dilakukan vaksinasi ya, tapi nyatanya korban terus berjatuhan dengan angka kematian cukup tinggi. Belum lagi okupansi kamar rumah sakit yang rata-rata sudah terisi penuh. Bahkan ada juga nih yang sudah kena eh kena lagi. 

Kalau misalnya terlanjur kena Covid-19 apakah harus buru-buru ke rumah sakit? Nggak kok.

Selama tidak mengalami gejala yang berat pasien boleh melakukan isolasi mandiri di rumah. Berikut saya sertakan link artikel dari warganet yang sudah berbaik hati merangkumkan panduan untuk isolasi mandiri, terapi selama isolasi juga tes antigen. 

Apabila ternyata pasien perlu perawatan lebih lanjut, bisa klik link berikut yang berisikan informasi ketersediaan kamar untuk pasien Covid maupun non Covid. Jika link error bisa di-refresh atau coba akses lagi. Karena pasti yang akses cukup banyak. 

Kalian boleh nih teruskan hobi koleksi tanaman, bersepeda, trading crypto, asal jangan sampai nggak percaya kalau Covid-19 itu beneran ada. 😉 

Dan selalu pilih-pilih sumber informasi terpercaya. Jangan asal percaya sama sumber nggak jelas, apalagi kalau yang ngomong bukan ahli di bidangnya. Misalnya saya nih, bisa aja ada salah-salahnya, karena saya cuma rakyat jelata biasa. 

Stay healthy and stay at home! ~ 

 

Referensi:

https://amp.theguardian.com/australia-news/2021/jun/24/its-in-the-air-you-breathe-what-you-need-to-know-about-sydneys-delta-covid-variant 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *