A Heavy Coffee Drinker
mental baja

Meniru Mental Baja ala Atlet Olimpiade

Eh, udah masuk bulan Agustus aja nih. Tentunya masih dalam situasi PPKM level 4.
While I am ….

Twitter Quote

LOL. Ya ampun bisa relatable banget sih. Bayangkan ketika saya sibuk rebahan sambil makan camilan, di luar sana ada sejumlah atlet Indonesia yang sedang berlaga mengharumkan nama bangsa. So, I want to say, “Thank you for all the hard work 🔥🔥🔥”
Untuk semua atlet-atlet Indonesia yang sudah berjuang sepenuh hati di Olimpiade Jepang 2020 (yang dilaksanakan tahun 2021 tentunya sudah tahu kan kenapa alasannya). Selamat untuk para atlet yang berhasil membawa pulang medali. Terima kasih banyak untuk atlet yang sudah berjuang meskipun belum bisa menang.
Tahu nggak sih apa yang saya kagumi dari mereka-mereka? Kemampuan mereka legowo menerima kekalahan. Karena lebih mudah untuk menang kan ketimbang kalah? Kalau menang yang sudah pasti pulang dengan hati senang. Nah, kalau kalah yang susah adalah menata hati dari kekecewaan.
Tentunya untuk punya mental baja seperti itu, sudah melalui tempaan selama bertahun-tahun. Bayangin deh kalau atlet-atlet ini mutungan alias mudah menyerah. Setelah kalah terus nggak mau jadi atlet lagi. Nggak mau ikutan turnamen-turnamen lain. Karena merasa jadi manusia paling gagal sejagat raya. Repot kaaan? Nah untungnya aja atlet kita nggak kayak gitu. Mereka akan coba lagi, coba lagi, coba terus.
Lalu teringat diri-sendiri. Harusnya saya juga bisa menerapkan kegigihan atlet-atlet itu. Apalagi belakangan saya berada di fase ‘hampir’ berkali-kali. Hampir lolos, hampir menang, hampir berhasil. Itu geregetan banget gitu. Rasanya tinggal satu kali melangkah harusnya udah bisa ngelewatin itu sungai, eh malah kecebur. Ha ha. Duh gimana euy. Bisa jadi usaha saya kurang keras, salah caranya atau memang jalannya bukan itu.
Jadi apa dong yang bisa kita lakukan kalau kita belum berhasil?
Apakah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda?
Ataukah kegagalan adalah kesuksesan yang sebenarnya tidak ada? :p
Menurut saya, hanya ada satu cara untuk tahu jawabannya. Keep going, keep moving forward. Sampai kapan? Diri kita sendiri yang tahu batasannya.

Hey August, please be nice to us!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *